Selasa, 20 Desember 2016

Enceng Gondok Rawa Pening Akan "Disulap" Jadi Sumber Energi

Enceng Gondok Rawa Pening Akan "Disulap" Jadi Sumber Energi
Sejumlah warga menggunakan perahunya untuk mengangkut tanaman enceng gondok = (Eichhornia crassipes) yang dikumpulkan dari Danau Rawa Pening di Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/9). Enceng gondok basah yang berharga Rp10.000 per 50 kilogram tersebut dipasok sebagai bahan pembuatan kerajinan ke sejumlah sentra kerajinan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra. 
    Rawapeningkita - Enceng gondok (Eichhornia crassipes) yang menutupi permukaan air di Danau Rawa Pning, Kabupaten Semarang, akan dimanfaatkan untuk membuat wood pellet, sebagai salah satu sumber energi baru.

Saat peluncuran program Pembangunan Pariwisata Kabupaten Semarang dengan Menyelamatkan Sumber Air Danau Rawa Pening, di Agrowisata pabrik PT Sido Muncul, Senin (19/12/2016), Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat menyampakainkan corporate social responsibility (CSR), PT Sido Muncul tengah melakukan penelitian pemanfaatan tumbuhan eceng gondok menjadi sumber energi baru padat berbentuk "pellet" pengganti minyak dan gas.

"Selama lima tahun ini, kebutuhan energi (bahan bakar, red.) memakai limbah jamu 50 persen dan gas 50 persen. Wood pellet diolah dari ampas limbah padat jamu. Ternyata, dari eceng gondok juga bisa," katanya.

Meski demikian, Irwan mengakui perlunya dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak untuk mendorong masyarakat sekitar Danau Rawa Pening mampu memproduksi eceng gondok menjadi "pellet" bahan bakar.

Jadi, kata dia, warga yang tinggal di sekitar danau yang terkenal dengan legenda Baruklinting itu bisa memproduksi "pellet" eceng gondok yang nantinya akan dibeli oleh kalangan industri.

"Pemanfaatan eceng gondok untuk pellet bahan bakar ini diharapkan mampu mengurangi pertumbuhan tanaman itu, khususnya di Danau Rawa Pening menjadi sumber energi baru yang bermanfaat," katanya.

Penelitian Enceng Gondok

Sebelum ini, pemanfaatan enceng gondok sebagai sumber energi ini pernah diteliti  Suharmadi Sanjaya, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2012 lalu. Suhardi menemukan teknologi yang bisa mengubah eceng gondok menjadi tenaga pembangkit listrik. Bersama rekannya di Amerika, Belanda serta Afrika, pihaknya bersama tim di ITS dengan bantuan rekan dari luar negeri membuat penelitian dan pengujian mengenai manfaat tanaman enceng gondok.

Menurut Suharmadi dari hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Indonesia memiliki potensi eceng gondok yang banyak, sebab hasil pantauan udara ada sebanyak 840 danau besar dengan luas rata-rata di atas 30 km2, dan 735 danau kecil yang banyak ditumbuhi tanaman itu. Menurut dia, 15 danau besar memerlukan revitalisasi mendesak karena banyak dipenuhi oleh eceng gondok, di antaranya Danau Toba, Danau Maninjau, serta Danau Tempe.

Suharmadi menganalogikan, proyek mengubah limbah menjadi tenaga listrik pada danau besar diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja yang cukup besar dengan dibangunnya pabrik bata, pupuk, air kemasan dan sebagainya.

Ia menyebutkan satu danau besar diperkirakan dapat menyerap 30.000 orang tenaga kerja, dengan satu danau bisa dibuat tiga pembangkit listrik, dan satu pembangkit bisa mencapai 5 Mega Watt (MW), dan satu MW bisa menyediakan listrik untuk 1.600 rumah. Sumber: tirto.id. 
   

Kamis, 07 April 2016

Penambang di Asinan Tinggalkan Rawa Pening

sumber: http://btpn2015.fotokita.net/massmarket/detail/1121
Semarang, Harian Semarang – Para penambang di Desa Asinan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mulai meninggalkan eksplorasi gambut Rawa Pening menyusul larangan pembuatan sekat pembatas (awir) eceng gondok di rawa tersebut.
Ketua Paguyuban Tanah Humus Asinan, Kecamatan Bawen, Jumini, Senin (5/4/2016), menyatakan sebelum ada larangan jumlah penambang tercatat sekitar 20 orang, namun kini tinggal enam penambang.
 Ia menjelaskan larangan pembuatan “awir” menyebabkan penambang sulit mengambil gambut di Rawa Pening karena semua permukaan rawa dipenuhi eceng gondok.
Sebelum diberlakukan peraturan tersebut, menurut Jumini, sehari bisa mencapai satu ton lebih, tetapi kini kadang seminggu baru bisa mengambil, bahkan kadang setelah sebulan baru bisa mengambil.
 Selain itu, katanya menambahkan, omzetnya dulu mencapai Rp7 juta hingga Rp10 juta/bulan, namun sekarang ini tidak pasti.
Jumini menjelaskan alat untuk mengambil gambut masih sederhana, yang biasa disebut “seser”, yakni berupa besi beton batangan dibuat melingkar kemudian diberi jaring dan diikatkan dengan bambu sepanjang lima meter.
 Gambut hasil eksplorasi dari Rawa Pening selama ini dimanfaatkan sebagai media tanam jamur kancing dan pupuk organik.Adapun wilayah pemasarannya yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur terutama di Malang. Pemanfaatan gambut di Rawa Pening berlangsung sejak tahun 1980-an.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Pusat, menurut Jumini, sekitar lima tahun melakukan penelitian gambut dan menyimpulkan bahwa gambut Rawa Pening bagus digunakan sebagai media tanam.
 Jumini mengatakan sejauh ini tidak pernah ada bantuan kepada penambang gambut dari pemerintah. Dalam kunjungan kerja DPR RI 5 tahun lalu juga pernah menjanjikan bantuan, namun menurut dia, sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya.
 Menurut dia, apa yang dilakukan penambang gambut itu jelas membantu karena memperlambat pendangkalan Rawa Pening yang dengan cepat disesaki eceng gondok. “Kita (penambang, red.) juga membantu pemerintah, agar Rawa Pening agar tidak mengalami pendangkalan,” demikian Jumini. (Red-HS99/Ant).
Sumber: https://hariansemarang.com/berita/2016/04/05/penambang-di-asinan-tinggalkan-rawa-pening/

Rabu, 23 Maret 2016

Rawa Pening, Tanam Padi Jajar Legowo


Ambarawa,
Bulan Maret 2016, di sekitaran Danau Rawa Pening, masih sering terjadi hujan. Di sekitaran danau ini pula, masih pada musim tanam padi. Petani bersyukur tentunya dengan suburnya sawah di sekitaran danau Rawa Pening. Hal ini mereka tumpahkan saat kirab budaya hari jadi Kabupaten Semarang yang ke-495 di alun-alun Bung Karno, Kalirejo Ungaran.

Tahun ini, sistem tanam padi Jajar Legowo, mulai diterapkan para petani di sekitaran danau Rawa Pening. Bagaimana sistem tanam padi tersebut? Berikut ulasannya.

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
Proses bertani atau budidaya pertanian dalam hal tanam padi menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan negara Indonesia, bagai mana tidak.. beras menjadi salahsatu produk yang sangat penting, ini dikarenakan beras menjadi produk yang termasuk pada Sembilan bahan pokok.
Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
Banyak hal yang mempengaruhi proses meningkatnya produksi padi, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat sasaran, pengairan yang tepat, pengendalian hama penyakit, dan lain sebagainya. Pada saat ini ada cara yang bisa di tempuh oleh petani dalam proses meningkatkan produksi padi salah satu yang bisa di pilih yaitu dengan cara tanam padi dengan sistem Jajar Legowo.

“Legowo” di ambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti Luas dan “Dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

Yang berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah.

Tipe sistem jajar Legowo
Jajar Legowo 2:1 – Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
Jajar Legowo 3:1 – Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya
Jajar Legowo 4:1 – setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

Berikut merupakan gambar dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
Dilihat dari gambar Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo maka dapat dilihat peningkatan popolasi dari tanaman padi yang ditanam, secara umum rumus peningkatan jumlah populasi tanaman padi dapat dilihat dengan rumus 100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo)

Sebagai Contoh,
Jika Legowo 2:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 2) = 33,3 %
Jika Legowo 3:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 3) = 25 %
Jika Legowo 4:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 4) = 20 %
Jika Legowo 5:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 5) = 16,7 %

Gambar Caplakan
•    Menggunakan  2 Caplakan
Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
  Sumber : http://ptmbplusagro.wordpress.com

•    Menggunakan 1 Caplakan
Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
 Sumber: http://farmingblogger.blogspot.com

Manfaat yang dirasakan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
1. Menambahnya jumlah tanaman padi
2. Akan meningkatkan produksi tanaman padi secara signifikan
3. Memperbaiki kualitas gabah karena akan semakin banyaknya tanaman pinggir
4. Dapat mengurangi serangan penyakit pada tanaman padi
5. Dapat mengurangi tingkat serangan hama tanaman padi
6. Akan mempermudah dalam perawatan tanaman padi baik dalam proses pemupukan maupun penyemprotan pestisida
7. Dapat menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian dalam baris tanaman saja

Kelemahan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo
1. Akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama pada saat melakukan proses penanaman padi
2. Membutuhkan benih yang lebih banyak, ini dikarenakan  semakin banyaknya populasi tanaman padi
3. Pada umumnya pada lahan yang menggunakan jajar legowo, maka akan lebih banyak ditumbuhi rumput

Sumber:
http://www.informasipertanian.com/2013/07/tanam-padi-dengan-sistem-jajar-legowo.html

Selasa, 01 Maret 2016

Gubernur Jateng: Tahun 2017, Rawa Pening Dieksekusi

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan normalisasi rawa pening di Kabupaten Semarang akan dimulai pada 2017 mendatang. 

Kepastian itu didapat setelah ia bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono. 

“Saya sudah ketemu menteri PU, tahun 2017 sidah bisa dieksekusi,” kata Ganjar di Semarang, Selasa (27/10/2015). 

Normalisasi rawa pening secara menyeluruh menjadi penting lantaran sudah puluhan tahun tidak tertangani dengan baik. 

Sedimentasi rawa sudah sedemikian parah, ditambah dengan eceng gondok, sehingga buruh perbaikan secara menyeluruh. 

Ganjar pun menyebut pernah ada laporan penelitian, saat mengunjungi negara Jerman akhir bulan lalu. 

Menyitir hasil penelitian, masalah yang ada di rawa pening sudah sangat kompleks. 

“Saat di Jerman, ada yang meneliti rawa pening selama 20 tahun. Mereka bilang, rawa pening dari dulu sampai sekarang masih seperti itu. Makanya, saya tindak lanjuti,” tambah dia.
Setelah itu, Ganjar mengaku bertemu dengan menteri Basuki. Ia ingin rawa pening dinormalisasi secara total, sehingga bisa berfungsi dengan baik. 

Lantaran baru bertemu, pada tahun 2016 baru akan disusun perencanaan bangunan secara mendetail atau menyusun Detail Enginering Design (DED) rawa pening. 

Menurut dia, Jika DED sudah selesai, tahun 2017 baru bisa dilakukan pengerjaan total.

“Kerusakan di rawa pening itu susah mengurainya, jadi harus menyeluruh. Nanti kalau sudah jadi, bisa dijadikan banyak hal, PLTU, penyediaan air, termasuk juga wisata,” ujar Ganjar.
Penulis: Kontributor Semarang, Nazar Nurdin
Editor: Glori K. Wadrianto
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/10/27/09492851/Gubernur.Jateng.Tahun.2017.Rawa.Pening.Dieksekusi

Minggu, 28 Februari 2016

Eceng Gondok: Dari Gulma Menjadi Pupuk


Gulma Eceng gondok menjadi masalah besar di Danau Tondano Sulawesi Utara Gulma Eceng Gondok ( eichhornia crassipes )adalah salah satu tumbuhan air mengapung, selain dikenal dengan nama eceng gondok, juga di kenal dengan nama Kelipuk ( Palembang ), di Lampung di sebut Ringgak, di daerah Kalimantan tepatnya suku Dayak di kenal dengan nama ilung-ilung, di Manado di sebut Tumpe. 

Eceng gondok ditemukan secara tidak sengaja oleh ilmuwan bernama Carl Fredrich Phillip Von Martius seorang botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824, ketika sedang ekspedisi di sungai Amazon  Brasil,  eceng gondok mempunyai kecepatan tumbuh yang luar biasa, sehingga dianggap sebagai gulma yang bisa merusak ekosistem perairan, terbukti saat ini hampir semua danau di Indonesia bermasalah dengan tumbuhan ini. 

Gulma eceng gondok banyak di manfaatkan sebagai bahan pembuat kerajinan tangan sampai meubel, di manfaatkan hanya batangnya saja, bagian akar dan daunnya di buang saja, menjadi limbah yang bila tidak diolah akan menjadi masalah lingkungan. 

Tahun 2006 saya memberikan tantangan kepada Gubernur Gorontalo untuk mengatasi masalah eceng gondok di Danau Limboto yang sudah mengganggu aktifitas petani ikan jaring apung, dimana populasinya sudah mengkhawatirkan, sehingga selalu jadi “komoditi politik” setiap akan pemilu, dimanfaatkan caleg yang mengangkat isu eceng gondok untuk meningkatkan popularitasnya, nyatanya engga ada perubahan berarti, karena baru sebatas wacana. 

Sebagai innovator saya mencoba mencari SOLUSI mengatasi masalah tanpa masalah ( seperti slogan pegadaian he he he ),  idenya adalah membuat pupuk hijau dari eceng gondok, dimana masyarakat pesisir danau yang umumnya berprofesi sebagai petani ikan, akan saya ajak untuk menjadi produsen pupuk hijaunya dan petani sebagai marketnya. 

Gulma eceng gondok dikumpulkan dan diangkut dari tengah Danau Limboto, menjadikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pesisir Danau Limboto. Sekali angkut bisa dapat 300 kg  gulma eceng gondok   Saya mengajak petani seputar Danau Limboto untuk mengumpulkan eceng gondok menggunakan perahu, lalu di timbang dan di beli dengan harga Rp 25.000 / ton, ( dua puluh lima ribu Rupiah ) dimana saat itu upah tani harian hanya Rp 20.000,- ( dua puluh ribu Rupiah ) / hari, saking banyaknya satu hari mereka bisa kumpulkan 2 ton kalau mereka rajin, jika malas 1 ton sudah cukup buat mereka.   

Mahasiswa UNG diajak untuk ikut serta membuat pupuk hijau. Inovasi bioteknologi + gula pasir = Bioaktivator di semprot merata pada tumpukan gulma eceng gondok. Gulma eceng gondok saya cooper, atau cincang, lalu di tumpuk setinggi 10 cm, lalu di taburi kapur dan limbah kotoran ayam dan di siram dengan campuran bioteknologi  di semprot secara merata, lalu dilakukan penumpukan dan diulang terus sampai menjadi gunungan, dan setelah 3 bulan menjadi pupuk hijau siap dipakai. 

Semua kegiatan saya lakukan bersama petani dan mahasiswa dari Universitas Negeri Gorontalo, tujuan nya untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman membuat pupuk hijau dari eceng gondok. Gulma eceng gondok dikumpulkan ,lalu di timbang dan langsung di cincang memakai mesin cincang, lalu ditumpuk jadi gunungan sambil di campur dengan kapur dan pupuk kandang, tujuan nya agar pupuk hijaunya menjadi pupuk lengkap yang sudah siap pakai, dan bisa mengurangi ketergantungan dari penggunaan pupuk kimia.   

Semua proses pembuatan pupuk hijau saya jelaskan secara mendetail, dan Gubernur Gorontalo Bapak Fadel Muhammad dan rombongan menyimak dengan serius. Pupuk hijau dibuat dengan cara berbeda dalam hal proses fermentasi memakai para-para dari bambu, untuk mempercepat proses dekomposisi pupuk hijau. 
Gulma eceng gondok di hancurkan dengan mesin pembuat kompos 

Hasil nya setelah di cincang siap di proses menjadi pupuk hijau. 

Kapur di tabur secara merata dilapisan setelah hasil cincangan gulma eceng gondok     

Di siram dengan cairan bioaktivator yang terbuat dari Inovasi Bioteknologi + gula pasir + air. 

Model fermentasi para-para, bambu di tengah sebagai cerobong hawa, supaya temperature media pupuk hijau tidak terlalu panas.   

Hasil cincangan Eceng gondok dalam tahapan proses dekomposisi Pupuk hijau sudah siap di pakai pada tanaman jagung. 

Aplikasi pupuk hijau pada tanaman jagung, sebagai penutup lubang tanam setelah benih jagung di tanam. 

Hasilnya tanaman jagung tumbuh subur dan berhasil mendapatkan panen 14,7 ton / hektar pipilan kering di kadar air 25%.   

Ditahun 2011 saya juga membantu membersihkan Danau Tondano dari Eceng gondok, dibuat pupuk hijau yang dipakai untuk menanam tanaman jagung manis, tanaman sayuran, tanam padi dan tanaman di polybag. 

Eceng gondok di kumpulkan secara manual 

Dikumpulkan dengan alat berat dari sungai Tondano 

Di cincang dengan alat cincang modifikasi yang bisa di pindah-pindahkan 

Hasil cincangan dimasukan ke dalam karung lalu di angkut ke tempat pembuatan pupuk hijau 

Pengerjaan pembersihan gulma eceng gondok dilakukan bersama PNS Kabupaten Minahasa, sehingga dalam waktu 1 bulan populasi eceng gondok berkurang sampai 60%, dan gulma eceng gondok dijadikan pupuk hijau yang bermanfaat bagi pertanian di sekitar Danau Tondano. 

Proses dekomposisi di mulai di sini 

Di siram bioaktivator untuk mempercepat proses dekomposting   

Danau Tondano setelah dibersihkan dari Gulma Eceng gondok. 

Sebagai innovator, Saya sangat senang melihat dan membaca di televisi sudah banyak inovasi pembuatan dan pemanfaatan eceng gondok, di Jawa Timur di manfaatkan sebagai sumber energi biogas, lalu di buat pupuk untuk pemeliharaan ikan bandeng, dipakai untuk menggantikan pupuk kimia dengan hasil ikan bandeng yang tumbuh lebih cepat dan dagingnya lebih enak, dan banyak lagi inovasi-inovasi yang lahir dari masyarakat baik dari mahasiswa maupun praktisi pertanian, semua dengan satu tujuan, menjadikan masalah adalah  berkat  dan tentunya dengan inovasi untuk kemajuan pertanian ramah lingkungan di Indonesia. Inovasi membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin

David Bekam 

/davebekam


Selengkapnya:http://www.kompasiana.com/davebekam/dulu-masalah-sekarang-menjadi-berkat_560d26fe739773f3085878fd

Jumat, 26 Februari 2016

Grass Carp (Ctenopharyngodon idella) berasal dari China bagian timur dan USSR. Ikan ini didatangkan ke Indonesia (Sumatera) pada tahun 1915. Pada tahun 1949 didatangkan ke Jawa dengan tujuan untuk dibudidayakan.

Ikan Grass Carp atau ikan Koan merupakan herbivora yang hidup di air tawar. Ikan jenis ini memakan tumbuhan air seperti Hydrilla sp., Salvinia, rumput-rumputan dan tumbuhan air lainnya, sehingga ikan jenis ini dapat dipakai sebagai ikan pengendali gulma air baik di kolam maupun diperairan umum.

BIOLOGI

Secara sistematis ikan grass carp termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cyprinipormes, famili Cyprinidae.

Ciri-ciri fisik ikan ini adalah warna abu-abu gelap kekuningan dengan campuran perak kemilau, badan memanjang, kepala lebar dengan moncong bulat pendek, gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir. Ikan grass carp dapat mencapai ukuran panjang maksimal 120cm dan bobot tubuh 20 kg.

Induk ikan grass carp sudah dapat memijah pada umur 3 s/d 4 tahun dengan berat betina mencapai 3 kg dan jantan 2 kg. Pemijahan biasanya terjadi pada musim penghujan.

PEMBENIHAN
Pemeliharaan Induk

Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2. Selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 1% dari berat total populasi dengan berat frekuensi pemberian sebanyak 2 kali per hari.

Induk ikan grass carp dapat dipijahkan setelah berumur 1 tahun dengan berat 2 - 2,5 kg.

Tanda-tanda Induk matang gonad :

Betina : Perut mulai bagian dada sampai ke arah pengeluaran menbesar, bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin agak kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban.
Jantan : Dibandingkan dengan betina bentuk badan relatif lebih langsing, sirip dada bagian atas kasar dan bila perut diurut kearah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma).

Pemijahan
Cara pemijahan ikan grass garp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

* Induced breeding
Pemijahan secara ”Induced breeding” yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan hormon LHRH-a atau ovaprim™.

Induk betina disuntik 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi apabila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian.

Induk jantan disuntik cukup sekali, menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 ml/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.

Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, setelah 6 jam dari penyuntikan pertama induki betina diperiksa kesiapan ovulasinya setiap 1 jam sekali, dengan cara diurut secara perlahan.

Ikan yang akan memijah biasanya ditandai dengan saling kejar, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin.

Setelah tanda-tanda tersebut, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan stripping (pengurutan) yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan di-stripping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9 %) atau cairan Sodium Klorida.

Sperma yang telah diencerkan dituangkan kedalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan diaduk secara merata sehingga pembuahan berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang, lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan kedalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang secara maksimal.

*
Induced spawning
Pemijahan secara Induced spawning perlakuannya sama seperti pemijahan Induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukan ke dalam bak pemijahan dan dibiarkan sampai terjadi pemijahan secara alami.
Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal.

*
Penetasan Telur
Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah untuk memutar air yang berisi telur agar tidak menumpuk. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam pada suhu 29°C.
Selain di dalam hapa corong penetasan dapat juga dilakukan di dalam akuarium (40 x 60 x 40) cm yang dilengkapi dengan aerasi. Padat tebar telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 26 s/d 29°C, telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam.

*
Pemeliharaan Larva
Setelah menetas larva di pelihara dalam corong yang sama , namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas di buang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong 4 hari. Apabila telur ditetaskan dalam akuarium , setelah menetas larva bisa dipelihara di akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan ¾ bagian air di buang dahulu dan diisi air yang baru. Larva yang sudah berumur 4 hari bisa langsung di tebar di kolam pendederan, atau di beri pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva dalam akuarium selama 10 hari, air harus di ganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian.

Pendederan
Pendederan Pertama

Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kelamir. Kolam yang digunakan luasnya 500 s/d 1.000 m2.

Kolam kemudian dikapur dengan kapur tohor. Dosis pengapuran 50 s/d 100 gr/m2, caranya kapur tohor dilarutkan terlebih dahulu kemudian disebarkan secara merata keseluruh dasar kolam.

Pemupukan dengan menggunakan kotoran ayam. Dosis pemupukan 500 gr/m2, kemudian diisi air setinggi 40 cm.Setelah 4 hari benih grass carp sudah dapat ditebarkan, sebaik waktu penebaran pada pagi hari atau sore hari. Padat penebaran 100 s/d 200 ekor/m2.

Pemeliharaan di kolam pendederan pertama selama 21 hari. Pakan tambahan di berikan setiap hari berupa pellet halus sebanyak 75 gr/1.000 ekor larva dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari.

Pendederan Kedua

Persiapan kolam pada pendederan kedua dilakukan sama seperti pendederan pertama. Padat penebaran larva 50 s/d 100 ekor/m2. Larva setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 10 % dari biomassa dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari. Lama pemeliharaan pada pendederan kedua selama 28 hari.

PENYAKIT

Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.


Sumber : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi
Website : www.bbpbat.net
 http://bbpbat.net/index.php/download/viewcategory/4-petunjuk-teknis-budidaya

Rabu, 24 Februari 2016

Eceng Gondok, Dampak dan Manfaat

enceng gondok
Efek negatif dari tumbuhnya tanaman eceng Gondok di antaranya:

Menyumbat saluran air
Rata – rata air danau dan rawa dialirkan kembali ke bagian lain seperti sungai. Dan air memang sangat dibutuhkan oleh sawah. Tanaman eceng gondok yang tumbuh liar dan tidak terkontrol memang dapat menyumbat saluran air.

Merusak kapal
Ada banyak masyarakat Indonesia yang masih menggunakan kapal sebagai kendaraan. Eceng gondok kerap menjadi penyebab kapal-kapal tersebut mengalami mogok. Untuk kapal yang bermesin, eceng gondok dapat merusak mesin karena mudah menyangkut dalam mesin. Sedangkan untuk perahu biasa, perahu akan sulit berjalan karena terhalang tanaman ini.

Menjadi sampah
Eceng gondok yang mati akan turun ke dasar rawa atau danau. Dan ini menjadi penumpukan sampah di dasar rawa dan danau.

Mematikan pertumbuhan di dalam air
Banyak ikan yang mati dan air yang tercemar akibat tumbuhnya tanaman eceng gondok. Eceng gondok menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam air. Sehingga kandungan oksigen dalam air terhambat.

Menjadi sarang penyakit
Eceng gondok yang tumbuh liar memang menjadi sarang penyakit. Tidak sedikit bakteri ataupun hewan bervirus yang tumbuh di tumpukan eceng gondok dan menyebabkan beberapa penyakit timbul dan menghampiri warga sekitar.

Ada banyak cara untuk mengatasi permasalahan tumbuhnya eceng gondok yang liar seperti memakai obat tanaman dan menumbuhkan Ikan Grass Carp. Tetapi tentu memanfaatkannya jauh lebih baik dari pada menghilangkannya dan membuat eceng gondok seolah tidak berguna.

...

Di balik efek negatif tumbuhnya tanaman eceng gondok, perlu juga diketahui bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Eceng gondok bahkan memiliki manfaat sebagai obat, meski memang lebih dianggap sebagai gulma.

Lalu apa saja manfaat – manfaat dari tanaman yang ditemukan ada abad ke-18 di Eropa ini? 

Berikut ini manfaat dan kelebihan dari eceng gondok yang mulai dikenal oleh banyak orang, baik untuk kesehatan maupun untuk perekonomian:

1. Eceng gondok Mengandung banyak zat baik

Meski terlihat sebagai Gulma atau tanaman liar, Eceng Gondok ternyata memiliki banyak kandungan zat baik di dalamnya. Bahkan Eceng Gondok juga dapat dijadikan makanan. Dalam setiap 1 ons Eceng Gondok mengandung 18 kilo kalori, 1 gr protein, 3,8 gr karbohidrat, 80 mg kalsium, 45mg fosfor, dan 4 mg zat besi. Sebanyak tujuh puluh persen dari bagian tanaman ini dapat dikonsumsi namun tidak banyak yang mengetahuinya.

2. Eceng gondok mengandung vitamin

Eceng gondok juga mengandung vitamin yang dapat membantu membuat tubuh menjadi lebih sehat. Vitamin yang terdapat dalam tanaman ini adalah vitamin A, B1, dan C.

3. Eceng gondok sebagai lahan bisnis kerajinan

Sebenarnya masyarakat Indonesia sangatlah kreatif, karena dapat membuat segala macam hal sebagai bisnis termasuk pemanfaatan eceng gondok. Di wilayah Jawa tengah dan Jawa Timur, beberapa masyarakat menjadikan tanaman eceng gondok sebagai bahan untuk memproduksi kerajinan tangan, seperti tas, dompet, gorden, taplak, dan lainnya. Mereka juga sudah sering mengekspor hasil kerajinan tersebut ke luar negeri. Sayangnya pemerintah belum melirik aktivitas mereka.

4. Eceng gondok sebagai bahan pengganti

Dapat dijadikan bisnis tentu eceng gondok memamng memiliki manfaat sebagai bahan pengganti. Yaitu dapat dijadikan bahan pengganti pembuat kertas dan rotan. Hanya saja kembali lagi dengan pengetahuan pemerintah juga masyarakat yang masih kurang.

5. Eceng gondok dapat menjadi pupuk organik

Meski merupakan keluarga tanaman, eceng gondok dapat menjadi pupuk organik bagi tanaman lainnya, caranya dengan menghancurkan eceng gondok, kemudian dicampur bersama decomposer. Lalu lakukan proses fermentasi. Pupuk ini dapat dipakai untuk menyuburkan sayuran dan buah-buahan.

6. Eceng gondok sebagai media pertumbuhan jamur

Eceng gondok juga memiliki manfaat sebagai tempat pertumbuhan jamur. Jamur yang dapat tumbuh di eceng gondok adalah jamur merang.

7. Eceng gondok untuk pengobatan

Yang paling menakjubkan adalah eceng gondok memiliki manfaat untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Di antaranya radang tenggorokan, gangguan saluran buang air kecil, dan penyakit kulit. Caranya untuk mengobali radang tenggorokan dan saluran buang air kecil adalah dengan merebus tanaman eceng gondok dengan air, kemudian minum airnya. 

Sedangkan untuk menyembuhkan penyakit kulit, caranya dengan hancurkan terlebih dulu eceng gondok, beri sedikit garam, letakan pada bagian kulit yang sakit, seperti bisul.

8. Eceng gondok untuk makanan ternak

Manfaat eceng gondok telah lama digunakan untuk makanan ternak yang ada di perdesaan. Konsumsi eceng gondok dapat membuat ternak tumbuh subur dan bergizi.

9. Eceng gondok rumahnya ikan

Ikan di sungai yang memiliki eceng gondok sangat leluasa bertelur dan menjadikannya rumah tempat bersarang. Tidak heran ikan dapat berkembang biak dengan mudah pada eceng gondok tersebut. Selain itu ia juga dapat diletakkan di akuarium dan membuat ikan lebih ‘bahagia’.

Pemerintah memang harus memperhatikan masalah eceng gondok ini. Bila manfaat yang paling ajaib yaitu sebagai obat tidak menarik, mungkin sebagai lahan bisnis dapat sangat menarik karena dapat menghidupi banyak keluarga. Perlu kesadaran pemerintah untuk mengolah eceng gondok dan memanfaatkannya secara maksimal.


Sumber: http://manfaat.co.id/9-manfaat-eceng-gondok-bagi-ternak-ikan-dan-manusia

Senin, 22 Februari 2016

Manfaat Eceng Gondok


Manfaat Daun Eceng Gondok bagi Kesehatan

Eceng gondok merupakan tanaman di air yang mudah hidup di mana saja. Tanaman ini biasanya didapatkan di sungai, kolam, parit, danau dan rawa. Tanaman hijau ini dapat hidup secara cepat, hingga dalam waktu sebentar telah dapat menutup permukaan air atau danau. Hal ini selalu dianggap mengganggu oleh sebagian orang, hingga pada akhirnya tanaman eceng gondok dihilangkan dengan cara dibabat.

Alasan lain warga membabat tanaman liar ini ialah karena sering pula terjadi banjir, sebab sampah yang tersangkut tak dapat hanyut oleh arus. Memang sekilas hal ini betul adanya, tetapi jika difikirkan akan manfaat dari tanaman ini memungkinkan kita akan membuang niat untuk menghilangkan eceng gondok, bahkan kita ingin menanamnya kembali.

Sekarang tanaman ini telah mulai digunakan oleh tangan-tangan kreatif anak bangsa, contoh serat pada batang eceng gondok dibuat menjadi tikar anyaman yang berentitas bahkan laris sampai manca negara. Selain itu, daun eceng gondok berguna pula untuk dijadikan taplak meja, aksesoris, tas dan lain sebagainya. 

Sementara itu, daun eceng gondok dapat dipakai untuk makanan ternak . Contohnya itik, sementara batangnya dapat digunakan untuk penyanggaan bunga. Peluang bisnis dari tanaman eceng gondok ini sekarang mulai dilihat dan digunakan, karna nilai yang cukup ekonomis.

Manfaat Daun Eceng Gondok bagi Kesehatan
Hal yang menegangkan muncul dari dunia medis, ternyata tanaman eceng gondok ini bermanfaat bagi kesehatan dan berpotensi dapat menyembuhkan bermacam jenis penyakit, karna ada senyawa khusus di dalam daun eceng gondok ini.

Unsur-unsurnya itu ialah unsur siO2, calium (Ca), mahnesium (Mg), kallium (K), natrilium (Na), clorida (Cl), cuper (Cu), mangn (Mn), ferumia (Fe) dan  bayak lagi. Sementara akarnya terdapat senyawa sulvate dan fosfat. Daun eceng gondok kaya akan senyawa carotion dan bunganya mengandung delphinidhin-3-diglucosida. 

Dengan banyaknya kandungan kimia pada eceng gondok,  maka ada beberapa penyakit yang dapat disembuhkan; misalnya panas tenggorokan, BAB tak lancar, bisulan dan lain-lain. Dzat kimia itu terdapat pada eceng gondok baik dari akar sampai daun.

Selain untuk obat-obatan, eceng gondok ini pula berguna untuk pembuatan pupuk. Banyaknya pembuatan pupuk memakai bahan dasar dari eceng gondok.
Nah, manfaat eceng gondok ternyata sangat menyeluruh, baik di dunia kesehatan, kerajinan, bahkan hingga untuk pertanian yaitu pengolahan pupuk.

Sumber: http://mustahabbah.blogspot.co.id/2015/05/manfaat-daun-eceng-gondok-bagi-kesehatan.html


Sabtu, 20 Februari 2016

Eceng Gondok untuk Kolam Ikan




Tanaman mengambang di kolam adalah tambahan paling disukai karena mereka menyediakan penutup permukaan, menaungi air kolam dan menyediakan tempat bagi ikan untuk kabur dari panas matahari.

Eceng Gondok berasal dari Brazil dan entah kapan sampai ke Indonesia. Tanaman ini sebenarnya tanaman air terburuk karena tumbuh begitu cepat sehingga memblokir aliran air dan merusak pelayaran.
Walau begitu, daun eceng gondok itu cantik. Belum lagi bila ketika ia berbunga. Bunganya ungu dan menambah keindahan kolam. Salah satu cara untuk mencegah ia berkembang luas adalah membatasinya dengan tali di sekitarnya, pasang sekitar 5 cm di atas permukaan air. Sebelum bepergian lama, beberapa eceng gondok harus dibuang dari kolam, jika tidak begitu pulang, eceng gondok sudah mengambil alih seluruh permukaan kolam.
Cara menanamnya cukup letakkan eceng gondok di atas permukaan air kolam. Tanaman ini akan menyebar begitu saja di sana seiring waktu.
Sistem akarnya bercabang panjang dan berat seperti ditutupi kumis hitam. Ia efektif untuk membuang kotoran ikan dari air. Akar yang tua berwarna hitam dan muda berwarna putih. Akarnya dapat tumbuh hingga 45 cm. Kalau dasar kolamnya lumpur dan akarnya sudah sampai kesana, ia akan tumbuh lebih cepat lagi.
Lebih dari 30 tahun lalu, NASA melihat potensi besar dari eceng gondok untuk memurnikan air pada perjalanan luar angkasa yang panjang dan melakukan penelitian pada tanaman ini. Hasil dari studi ini ditemukan kalau tanaman ini dapat menghemat jutaan dolar jika digunakan dalam fasilitas pemurnian air untuk memurnikan air. Hal ini terkait dengan kekuatan luar biasa sistem akar eceng gondok untuk menyerap kotoran. Saat ini ia sudah banyak digunakan di banyak pusat penanganan limbah di kota besar di AS. Jadi ia juga bagus untuk kolam.
Selain itu, eceng gondok juga mengendalikan pertumbuhan ganggang, sang pemangsa oksigen kolam. Mereka mengurangi jumlah sinar matahari yang masuk ke kolam sehingga ganggang sesak napas. Mereka juga menyedot nutrisi yang dibutuhkan ganggang untuk tumbuh dengan baik.
Tapi kalau dibiarkan, eceng gondok bisa tumbuh ke samping dan keatas juga. Ia bisa mencapai tinggi 1 meter. Anak Koi senang tinggal di daerah akarnya karena menjadi perlindungan dari predator. Tapi karena Koi senang makan daun, koi juga memangsa eceng gondok. Jadi, eceng gondok juga berfungsi sebagai makanan sekaligus benteng bagi Koi, asal tidak terlalu banyak di kolam.
Sumber: http://www.faktailmiah.com/2011/04/09/eceng-gondok.html

Kamis, 18 Februari 2016

Eceng gondok


 

Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe. Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil. Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulmayang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Deskripsi
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.

Habitat
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat danpotasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.

Dampak
·   Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat.
·   Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).
·  Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.
·  Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantandan beberapa daerah lainnya.
·    Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia.
·    Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.

Penanggulangan
Karena eceng gondok dianggap sebagai gulma yang mengganggu maka berbagai cara dilakukan untuk menanggulanginya. Tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya antara lain:
·    Menggunakan herbisida
·    Mengangkat eceng gondok tersebut secara langsung dari lingkungan perairan
·  Menggunakan predator (hewan sebagai pemakan eceng gondok), salah satunya adalah dengan menggunakan ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) atau ikan koan. Ikan grass carp memakan akar eceng gondok, sehingga keseimbangan gulma di permukaan air hilang, daunnya menyentuh permukaan air sehingga terjadi dekomposisi dan kemudian dimakan ikan. Cara ini pernah dilakukan di danau Kerinci dan berhasil mengatasi eceng gondok di danau tersebut.
·  Memanfaatkan eceng gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.

Pembersih Polutan Logam Berat

Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain.

Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida.